jump to navigation

Judul December 1, 2012

Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Info Publik/ Penting.
add a comment

explorekjjvvslvl;dshv;svh;s

September 1, 2012

Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Uncategorized.
add a comment

<script type=”text/javascript” src=”../jscripts/tiny_mce/tiny_mce.js”></script>

September 28, 2011

Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Uncategorized.
add a comment

free counters
Free counters

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H. September 1, 2011

Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Hari Besar Keagamaan.
add a comment

Kami mengucakan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H” , “Minal Aidin Walfa Idzin-Mohon Ma’af Lahir dan Bathin.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) June 30, 2011

Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Pendidikan.
add a comment

MATERI Manajemen Berbasis Sekolah

“Nilai” yang “Bernilai” September 29, 2010

Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Inspirations, Pendidikan.
add a comment

Tulisan di bawah ini dikirimkan teman melalui e-mail kepada saya. Dan saya pikir perlu meneruskannya kepada rekan-rekan sekalian.Walaupun tulisannya agak panjang, tapi sangat baik untuk menambah wawasan paedagogik kita. Selamat membaca.

From: PRATIKTO TEDJORAHARDJO

Terkirim: Sab, 24 Juli, 2010 18:09:47
Judul: [Milis Alumni FH-UKSW] FW :Semoga bermanfaat

Semoga tulisan di bawah bermanfaat bagi guru-guru dan kita semua selaku pendidik di keluarga kita

*RHENALD KASALI **
Thursday, 15 July 2010*

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolahtempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itutelah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali.

Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas.

Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukandiberi nilai buruk, malah dipuji.

Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

*BUDAYA MENGHUKUM *

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya.

“Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju…..Encouragement ! ”
Dia pun melanjutkan argumentasinya. “Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.

Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.

Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya danpenguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya.

Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya.

Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.

Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.

Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”.

Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

*MELAHIRKAN KEHEBATAN *

Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut?

Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman:
Awas…;
Kalau,…;
Nanti,…;
dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.

Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun.

Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)

**RHENALD KASALI **
*Ketua Program MM UI*
©my ® 8520 @SM™

Grup FB: Ruang Diskusi Guru Antar/Inter Sekolah Se-Indonesia

Sharing, June 10, 2010 “Mengapa Siswa Mencontek” June 11, 2010

Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Pendidikan.
add a comment

Ujian kenaikan kelas sedang berlangsung di berbagai sekolah. Mulai dari tingkat SD sampai SMA/SMK.Selain sebagai penentu naik tidaknya siswa ke tingkat berikutnya, ujian merupakan suatu instrumen untuk mengukur tingkat kemampuan siswa setelah menempuh pembelajaran 1 (satu) semester).Apakah tujuan pembelajaran yang kita berikan kepada siswa selama ini sudah tercapai atau belum. Namun, bagaimana jika pada saat ujian siswa “mencontek” atau bekerja sama dengan temannya, dsb? Fenomena ini merupakan bomerang bagi dunia pendidikan kita. Kita akan menjadi sulit untuk mengukur ketercapaian program kita. Siswa yang mencontek kemungkinan besarnya tidak mempersiapkan diri dengan baik.Sehingga mereka membuat kopekan kecil di kertas, di meja tulis, dikartu ujian, di dinding bahkan di Hp, badan dan seragam.Lalu bagaimana cara kita untuk mengatasi hal ini?Karena seketat-ketatnya pengawasan tetap saja hal ini terjadi. Mungkin perlu motivasi dari kita selaku guru dan orang tua mereka bahwasanya “belajar keras” dapat menggantikan si “kopekan” tersebut.

(Facebook: Ruang Diskusi Guru Antar/Inter Sekolah Se-Indonesia)

KISRUH UN-UJIAN NASIONAL 2010 December 12, 2009

Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Pendidikan.
add a comment

Permasalahan yang terjadi setelah pelaksanaan UN kerap mengundang pro-kontara dari setiap kalangan masyarakat. Hal ini mulai terjadi sejak berubahnya EBTANAS menjadi UAN-UN. Pada tahun tersebut pemerintah pusat dalam hal ini Mendiknas menetapkan Standar Kelulusan ujian secara nasional dalam PERMEN (Peraturan Pmerintah).

Sejak Permen tersebut diterapkan  sebagai pedoman sistem ujian nasional membuahkan hasil yang belum memuaskan terhadap harapan masyarakat. Pemerataan sarana-prasarana pendidikan merupakan salah satu agenda pembicaraan masyarakat terutama para pendidik. “Sarana dan prasarana di kota dan di desa kan tidak sama, bahkan sangat jauh berbeda dari segi kuantitas dan kualitas, belum lagi SDM siswanya.Di samping itu, kualitas kemampuan guru mengajar akan tidak maksimal sehingga mempengaruhi transformasi ilmu ke siswa.

Teknologi Pendidikan Menjawab Persoalan Pendidikan November 21, 2009

Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Pendidikan.
add a comment

Jakarta, Rabu (18 November 2009) — Teknologi pendidikan perlu terus menerus dikembangkan untuk menjawab persoalan – persoalan pendidikan. Pendekatan pembelajaran yang sebelumnya tidak mungkin jika dilakukan secara konservatif maka dengan teknologi pendidikan akan menjadi mungkin. Teknologi pendidikan dapat meningkatkan efisien dan efektivitas.

“Saya mengajak untuk terus menerus mengembangkan teknologi pendidikan untuk menjawab persoalan ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas. Dengan teknologi pendidikan maka persoalan ketersediaan bisa dikurangi sebagian, demikian juga (persoalan) keterjangkauan,” kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh pada Seminar dan Workshop Nasional Peran Teknologi Pendidikan dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Nasional di Depdiknas, Jakarta, Rabu (18/11/2009).

Mendiknas menyebutkan, teknologi pendidikan memiliki tiga peran penting. Pertama, kata Mendiknas, teknologi pendidikan berperan sebagai pendukung proses pendidikan. Kedua, lanjut Mendiknas, teknologi pendidikan berperan sebagai penggerak. Dia mencontohkan, penggunaan teknologi informasi sebagai media atau bagian dari teknologi pembelajaran. “Dengan IT bisa menggerakkan bukan saja bab pelajaran yang diajarkan, taruhlah Matematika menggunakan IT, tapi sekaligus mendrive guru, murid, atau orangtuanya untuk belajar IT,” katanya.

Peran ketiga, kata Mendiknas, teknologi pendidikan dijadikan sebagai pengungkit. “Kita harapkan teknologi pendidikan bisa berperan sebagai pengungkit atau enabler. Segala macam yang tidak mungkin jadi mungkin,” katanya.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Fasli Jalal mengatakan, dengan teknologi pendidikan, peluang untuk mendapatkan akses yang lebih luas bagi semua anak bangsa dan pemangku pendidikan makin meningkat. Dia mengatakan, teknologi ini memerlukan budaya baru, sehingga belum tersedia bagi banyak pemakai. “Jadi diperlukan kesabaran terus menerus untuk mensosialisasikan, mendampingi, dan memudahkan mereka di dalam mengakses teknologi ini termasuk kemampuan kita untuk mengembangkan konten,” katanya.

Fasli menyampaikan, dari sisi kebijakan, pemerintah berkomitmen penuh untuk memanfaatkan, meninternalisasikan, dan membudayakan pemakaian teknologi pendidikan di berbagai jenis dan jalur pendidikan yang sesuai. “Kita berharap, semua sekolah terhubung dengan internet. Anak – anak bisa belajar dengan menyenangkan,” katanya.

Gubernur Papua Barnabas Suebu mengatakan, Pemerintah Daerah Provinsi Papua telah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi kurangnya fasilitas dan sumber pembelajaran. Dia mengatakan, saat ini Pemerintah Papua akan melengkapi infrastruktur telekomunikasi bagi 3.000 sekolah dan 3.000 desa. “Yang sekarang kita mulai adalah melengkapi semua kampung dan sekolah dengan perangkat keras parabola, televisi, radio menggunakan (tenaga) energi matahari,” katanya.

Barnabas menyebutkan, Pemerintah Papua telah menganggarkan Rp300 milyar pada 2009 untuk menyediakan berbagai perangkat tersebut. “Kalau bisa tiga tahun sudah bisa pasang semua,” katanya.

Fasli menambahkan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menggandeng Institut Teknologi Bandung dan Universitas Cendrawasih untuk mendukung dari sisi teknologi dan Universitas Pendidikan Indonesia untuk mengembangkan kontennya. TV Papua, kata dia, juga telah menyediakan waktu selama dua jam setiap hari untuk menayangkan konten pendidikan.

Sementara, lanjut Fasli, untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia telah disiapkan sebanyak 1.000 sarjana masing – masing 300 dari bidang teknologi dan 700 dari berbagai bidang seperti pertanian, kesehatan, peternakan, dan sosial budaya. “Nah kombinasi ini yang membuat program itu lebih mungkin nanti untuk berjalan berkelanjutan,” katanya. ***


Sumber: Pers Depdiknas

 

KPK-POLRI-TPF-TIM 8-GANYANG MAFIA HUKUM November 11, 2009

Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Politics.
add a comment

Konflik antara KPK dan Polri kian hari kian runyam. Adanya spekulasi-spekulasi yang di tersistem untuk mengitimidasi departemen KPK ataupun Polri (saling mengadu kekuatan). Polri tidak sanggup memberantas korupsi sendiri sehingga KPK dibentuk sebagai salah satu Komisi yang turut membantu.Namun, bagaimana jika di dalam kedua departemen tersebut yang melakukan tindak korupsi tersebut???Kedua departemen tersebut berlumba mencari celah terlebih dahulu, mencoba membuat rekayasa terkoordinir untuk menjatuhkan rivalnya? (seharusnya kawan) Informasi terakhir, menyatakan Polri membuat rekayasa palsu tentang tuduhan penyuapan di tubuh KPK. Laporan BAP palsu yang diintimidasi oleh petinggi Polri untuk meyudutkan petinggi KPK yang kini mulai terungkap membuat petinggi KPK no-aktif mulai tenang. Karena oknum Polri pembuat BAP palsu tersebut sudah bersaksi di pengadilan. Kejaksaan Agung mulai bingung dengan ini semua, hawa masyarakat di setiap daerah memanas. Demo antara pendukung turun jalan, melalakukan orasi massal yang hampir menciptakan kericuhan.Massa sang netralis merupakan orator medium pendamai, seharusnya aksi ini harus lebih dominan sehingga tidak terjadi persepsi adu domba. Karena semua kejadian ini merupakan cela bagi bangsa kita dan ini harus segera diselesaikan secepat mungkin.

Presiden membentuk TPF dan TIM 8 merupakan hak dan wewenang beliau, tapi mungkin agak terlambat. Namun, komponen masyarakat masih besar berharap kasus ini terselesaikan dengan pembentukan tim tersebut. Di lain sisi ternyata ada pihak yang berasumsi negatif terhadap  pembentukan tim ini. Aneh bukan? Presiden sudah tentu memberikan standarisasi wewenang yang sesuai. Sekarang dalam kasus ini yang dapat kita percayai adalah pemerintah (presiden, wakil dan menteri). Biarlah pemerintah melaksanakan tugas mereka dan kepercayaan kita berikan kepada mereka seutuhnya. Dalam program kerja 100 hari,  pemerintah sudah memakukan salah saturencana kerja pemberantasna  korupsi dan Mafia Hukum atau yang sering disuarakan dengan istilah ” Ganyang Mafia Hukum”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.