^4 Defenisi Jenis Pribadi Seseorang^ May 20, 2009
Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Pedoman Hidup.add a comment

KeLebIhan YanG UniK February 26, 2009
Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Pedoman Hidup.add a comment

Wise Words to be Contemplated February 1, 2009
Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Pedoman Hidup.add a comment
”Its true that we don’t know what we’ve got until we loose it but it is also true that we don’t know what we’ve been missing until it arrives.” …………………. “When one door of happiness closed, another opens but often we look so long at the closed door that we don’t see the one, which opens to us.” ……….. “There are things u love to hear but you would NEVER hear it from the person from whom you would like to hear it but don’t be DEAF to hear it from the person who says it with HIS HEART.” never…never… “Never say GOODBYE when u still want to TRY, Never give up when u still fell u can take” “It takes only a minute to have a crush on someone, an hour to like someone, and a day to love someone but it takes a lifetime to forget someone..”
Sendered By : Galumbang Sitinjak
Cincin Emas dan Kearifan September 27, 2008
Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Inspirations, Pedoman Hidup.add a comment
Suatu pagi Zhi Zhou mendatangi Zun-Nun dan bertanya, “Guru, saya tak mengerti mengapa guru berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amatlah penting, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain.”
Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, “Zhi Zhou, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?” Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, “Satu keeping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”
“Cobalah dulu anak muda, Siapa tahu kamu berhasil.”
Zhi Zhou pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang sayur, penjual daging dan ikan. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, Zhi Zhou tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak.
Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak.”
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”
Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga sepuluh keping emas.
Rupanya nilai cincin ini sepuluh kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas”.
“Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat hingga ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya, dan itu butuh proses. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas.
ArTi SeORanG TeMAn September 10, 2008
Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Pedoman Hidup.add a comment
Kita adalah Apa Yang Kita Pikirkan?? August 27, 2008
Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Pedoman Hidup.add a comment
Kita ada di dunia ini karena kita berpikir,
bahwasanya kita mengerti akan posisi kita.
Kita sadar bahwa kita ada karena kita memiliki akal pikiran
untuk mendeskripsikan keberadaan dimana kita berada.
Terkadang apabila kita berpikir kita berada di lain dunia,
saat itulah kita menjadi seorang pemimpi.
Ketika kita berpikir bahwasanya kita berada di dunia yang penuh dengan
logika,
saat itulah kita menjadi orang yang berintelektual.
Ada baiknya dengan memaknai kata-kata itu,
kita menjadi pemikir yang benar,
bukan hanya benar tetapi baik untuk semua hal.
Marilah kita berpikir dengan prosedur yang benar,
sehingga akan membuahkan hasil yang benar pula.
Kita berpikir akan sukses , maka kesuksesan itu akan menjadi milik kita.
Kita berpikir akan kalah, maka ketakutan yang menjadi teman kekalahan itu
akan menggerogoti kita.
Jadi, biasakanlah berpikir positif, baik dan benar sehingga jati diri kita yang
sesungguhkan akan membawa
kita ke harapan cemerlang.
by: Partogi Siagian, M.PD
