HaPPY bIRtHDaY AN-TV March 30, 2009
Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Info Publik/ Penting.add a comment
Happy Birthday…happy birthday…
happy birthday 16th For An-TV
“Semoga Tetap Jaya dan Kompetitif untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa”
Janji Politik Berlebihan Saat KaMpanyE…. March 30, 2009
Posted by Partogi Siagian, M.Pd in AGREE OR DISAGREE.add a comment
Sudah merupakan hal yang biasa bagi para caleg memberikan janji politik nya kepada rakyat saat kampanye. Bahkan, ada yang memberanikan diri menandatangani kontrak politik. Apakah ini hanya akalan belaka untuk menarik simpati rakyat atau memang benar2 serius akan merealisasikannya?
Agree or Disagree?
MISTERI SEPUTAR TEWASNYA DAVID HARTANTO WIDJAJA March 27, 2009
Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Info Publik/ Penting.add a comment
MISTERI SEPUTAR TEWASNYA DAVID HARTANTO WIDJAJA
MAHASISWA TINGKAT AKHIR ASAL INDONESIA DI NANYANG TECHNOLOGICAL UNIVERSITY (NTU) DI SINGAPURAPada hari Selasa tanggal 3 Maret 2009, Metro TV menayangkan berita mengenai kematian David Hartanto Widjaja, seorang mahasiswa akhir asal Indonesia di NTU (Nanyang Technological University) di Singapura. Berita itu dilansir dari sumber resmi Kepolisian Singapura yang disampaikan kepada semua media di Singapura maupun luar negeri.Berita selengkapnya adalah sebagai berikut :
MAHASISWA TINGKAT AKHIR ASAL INDONESIA, DAVID HARTANTO WIJAYA, TEWAS BUNUH DIRI
Metro Siang / Hukum & Kriminal / Selasa, 03 Maret 2009 12:31 WIBMetrotvnews. com, Singapura: Seorang mahasiswa tingkat akhir asal Indonesia, David Hartanto Wijaya, tewas akibat bunuh diri, Senin (2/3) kemarin. Ia ditemukan tewas berlumuran darah akibat memotong nadinya sendiri dan terjatuh dari lantai empat Nanyang Technological University, Singapura, sekitar pukul 10.30 waktu Singapura.
Polisi Singapura menduga, sebelum bunuh diri David menikam Profesor pembimbingnya, Chan Kap Luk, pada bagian punggung dan lengan. Sang profesor kini dikabarkan dalam kondisi stabil di rumah sakit. Seorang mahasiswa membenarkan dia melihat Profesor Chan dibawa dengan balutan di tangan dan punggungnya.
Pihak universitas menduga, motif penikaman akibat dihentikannya beasiswa David oleh dosen lain. Padahal, menurut pihak universitas, seharusnya David dikukuhkan kelulusannya, Juli depan.
Semula, David bersekolah di SMAK 1 Jakarta. Ia dikenal oleh teman-temannya sebagai anak yang pintar. Ia pernah meraih perunggu pada Olimpiade Matematika di Meksiko pada 2005. Ia juga dikenal sebagai penggemar permainan game online dan bahkan menjadi administrator di sejumlah forum game-game tersebut. David, kata Kepala Humas SMAK 1 Pemanur Daisy Imelda, juga dikenal ramah seperti siswa lainnya.
Orang tua David kini telah berada di Singapura untuk mengetahui lebih jelas permasalahan ini. Mereka mengaku syok dan tidak percaya David dapat berbuat demikian. Alasannya, karena David tidak pernah mengeluh ada suatu persoalan pada mereka. Jenazah David rencananya akan dipulangkan ke Indonesia hari ini.(DOR)
* * * * *Akan tetapi, ternyata berita resmi yang disampaikan pihak Kepolisian dan NTU (Nanyang Tecgnological University) kepada semua media di Singapura tersebut dibantah kebenarannya oleh para saksi mata dan teman-teman David Hartanto dalam beberapa tulisan berikut :
01. Tidak ada luka di pergelangan tangan David.
02. David Hartanto Widjaja tidak bersalah !
03. “They want to kill me,” teriak David, darah lalu bersimbah.Apa yang sebenarnya terjadi di balik kematian seorang mahasiswa jenius asal Indonesia di Universitas bergengsi di Singapura tersebut ? Apakah itu benar merupakan peristiwa bunuh diri biasa seperti yang disampaikan oleh Kepolisian Singapura maupun NTU; ataukah ada konspirasi tingkat tinggi yang melibatkan aparat pemerintah, lembaga pendidikan tinggi maupun pelaku bisnis di sana ?
Melalui peristiwa mengerikan ini, sebaiknya para orang tua di Indonesia bisa lebih berhati-hati dan selektif jika akan menyekolahkan anaknya di luar negeri, agar kasus serupa tidak terjadi lagi bagi para generasi muda jenius bangsa ini.
* * * * *01. TIDAK ADA LUKA DI PERGELANGAN TANGAN DAVIDSingapura – Seorang teman dekat David Hartanto membeberkan bahwa tak ada luka apapun di pergelangan tangan mahasiswa Indonesia yang menikam profesor di Singapura. Padahal pemberitaan media Singapura menyebutkan David mengiris pergelangan tangannya usai menikam Profesor Chan Kap Luk di kampus Nanyang Technological University (NTU).
Dalam kolom komentar di harian Straits Times, Rabu (4/3/2009), Edwin Lesmana yang mengaku teman dekat David, menyebutkan bahwa Dekan Mahasiswa NTU Lok Tat Seng mengumpulkan semua mahasiswa Indonesia di International Student Center pada malam setelah insiden Senin, 2 Maret lalu.
“Saya salah satu teman dekat David Hartanto dan saya disini untuk memberikan beberapa fakta, asumsi, dan kemungkinan tentang kasus ini.
Fakta:
1. Lok Tat Seng, Ketua Mahasiswa (mungkin semacam BEM) NTU mengumpulkan semua mahasiswa Indonesia di International Student Center pada sore setelah insiden, dan dia hanya berkata bahwa ada saksi di tempat kejadian yang melihat tubuh David terbaring diatas tanah, meninggal. Lok Tat Seng tidak berkata bahwa saksi melihat David melompat dari balkon, dan hanya itu -menurut dia- yang saksi lihat.
2. Satu-satunya pernyataan resmi dari pihak kepolisian adalah: David ditemukan meninggal pada TKP, mereka tidak menyebutkan bahwa dia melakukan bunuh diri.
Linknya: http://www.straitst imes.com/ STI/STIM. ..20at%20NTU. pdf
Mereka juga hanya menyebutkan ‘Profesor dipercaya telah ditusuk’ Polisi tidak menyebutkan bahwa ‘Profesor telah ditusuk’ Darimana asumsi ini datang? Mengapa mereka tidak mengatakannya?
3. Saya dan beberapa teman bangsa Indonesia berkumpul malam ini, 3 Maret 2009, jam 8 malam di International Student Center dan berbincang dengan orangtua David, Mereka telah melihat tubuhnya. Disana TIDAK ADA LUKA atau tanda apapun pada pergelangan tangannya, dan polisi juga telah mengkonfirmasikanny a.
Saya berasumsi bahwa orangtuanya tidak berbohong, dan berarti semua pemberitaan yang menyebutkan ‘David menyayat pergelangan tangannya’ adalah PALSU.
4. Luka yang ditemukan pada tubuh David, menurut orangtuanya, adalah pada kepalanya (Diduga pada saat jatuh), dan luka sayatan pada lehernya. Luka pada lehernya ini sangat mencurigakan menurut saya. Darimana dia menerima luka tersebut? Lagi, menurut orangtuanya, polisi menduga luka itu terjadi saat bagian bawah kepalanya jatuh ke tanah. Jika begitu, seharusnya dagunya rusak, dan itu tidak.
Pertanyaan saya adalah: DARIMANA LUKA SAYAT PADA LEHERNYA BERASAL?
Asumsi/Dugaan:
1. David menusuk profesor. Darimana anda tahu? TKP adalah ruangan tertutup, hanya David dan profesor itu. Tidak ada yang melihat apa yang terjadi. Saksi mata hanya melihat David lari keluar dari ruangan itu.
2. David bunuh diri. Bagaimana mungkin seseorang yang melakukan bunuh diri menjatuhkan dirinya ke atap kaca, dibanding menjatuhkan dirinya langsung ke tanah.
3. David menyayat pergelangan tangannya. Saya tidak tahu darimana berita ini berasal.4. Motivasi David.
4.1 Dia kecewa karena prof tidak memberinya nilai yang memuaskan
Nilai belum dikeluarkan, dan bahkan dia belum menerima rapornya. Juga adalah peraturan NTU untuk tidak menginformasikan mahasiswa tentang nilainya sebelum saat pengumuman nilai.4.2. Dia memiliki masalah mental
Tidak ada catatan di Pusat Konseling Mahasiswa tentang kehadirannya. Untuk murid yang brilian sepertinya, saya tidak percaya dia tidak datang konseling jika dia punya masalah. Juga, dia masih membawa tas dengan barang-barang yang biasa digunakan pada hari insiden, seperti botol minum, handuk, dll. Jika dia berencana membunuh seseorang, mengapa dia harus membawa barang-barang seperti itu, akan lebih mudah untuk hanya membawa satu buah pisau dan menusuk prof di TKP.
4.3. Dia kecewa karena beasiswanya telah dicabut.
Saya kenal David sejak menjadi teman 1 kamarnya 2 tahun berturut-turut sejak kamp pelatihan Olimipiade Matematika. Dia hampir tidak terpilih untuk IMO (International Mathematics Olympic), hanya memperoleh urutan 14 dari 15 orang yang terpilih. Dia masih bercanda dan tertawa pada saya saat itu. Dia juga tidak memperoleh apapun dari IMO dan msh baik2 saja, tidak terlihat tertekan atau apapun, dan menurut orangtuanya, dia berkata “Setidaknya, saya telah mewakili Indonesia pada IMO’. Dia juga masih bermain game Hammerfall di Facebook pada jam 2 pagi pada hari insiden. Teman saya melihat account Facebook-nya online. Bagaimana mungkin seorang pembunuh bermain game pada malam sebelum insiden? Jika saya menjadi dia, saya akan serius mempersiapkan esok hari.
Kemungkinan- kemungkinan:
1. Profesor menyerang David. Saya menyimpulkan hal ini karena beberapa poin penting.
Menurut banyak laporan, pakaian David basah oleh darah. Jika darah itu hasil menyayat pergelangan tangannya, seharusnya tidak membasahi pakaiannya karena pergelangan tangan jauh dari tubuh. Jika dari luka leher, hal itu lebih mudah terjadi.2. David mencoba lari dari Profesor. Setelah menyadari bahwa dia diserang, dia mempertahankan diri dan lari dari ruangan itu, dengan luka di lehernya.
3. David jatuh karena hilang kesadaran. Dia menjadi panik dan mungkin kehilangan kesadaran karena pendarahan parah, sehingga terjatuh ke atap kaca untuk lari dari Profesor.
Saya bertanggung jawab atas apa yang saya tulis disini, hubungi saya di kaminari.no. me@gmail. com jika anda perlu klarifikasi
* * * * *02. DAVID HARTANTO WIDJAJA TIDAK BERSALAH !Hari ini (5/3-09) saya dan temen2 SD/SMP yang seangkatan sama David Hartanto (Ming2) kita sama2 main kerumah keluarga Hartanto, sekedar untuk menyampaikan bela sungkawa, serta mencari kebenaran yang sesungguhnya karena kami tahu kalau David tidak akan melakukan hal-hal yang seperti diberitakan oleh media. Disana kami disambut oleh kakak David, dan orangtuanya, kebetulan kami datang bersamaan dengan keluarga besar Hartanto, jadi kami lebih banyak mengobrol dengan kakak David, yaitu Willian Hartanto, atau dulu dikenal teman2 seangkatannya dengan panggilan Weha.
Semakin lama mendalami kasus ini, makin banyak keanehan yang terbuka, dan untuk adanya pemberitaan yang mulai menunjukkan kebenaran, kami berterima kasih untuk rekan David di NTU yaitu edwin, kami tahu dia mempertaruhkan gelar sarjananya demi mengungkap kebenaran, karena itu kami juga mau membantu menyebarkan kabar yang sesungguhnya -walaupun terus ditutupi dan dihalangi oleh pihak NTU-Kejanggalan- kejanggalan yang ada:
1. Munculnya berita bahwa David menyerang Profesor Chan Kap Luk, lalu bunuh diri, padahal tidak ada bekas sayatan di pergelangan tangan seperti yang diberitakan, lalu darimana muncul berita tersebut? Untuk apa dimunculkan berita palsu bahwa David menyayat pergelangan tangannya?
2. Saat keluarga tiba disana senin malam setelah kejadian, keluarga ingin langsung melihat jenazah David, namun dihalangi oleh pihak2 tertentu, dengan alasan sudah peraturan, tentu saja keluarga harus menurut, apalagi saat itu keluarga masih syok. Lalu saat diizinkan melihat kondisi jenazah keesokan harinya, keluarga hanya diizinkan untuk melihat jenazah bagian leher ke atas, sedangkan bagian tubuh yang lain telah ditutupi plastik. Keluarga Hartanto juga telah mengkonfirmasikan ke pihak polisi Singapura, tidak ada luka di bagian pergelangan tangan. Saat itu keluarga Hartanto juga melihat di bagian leher depan (daerah leher dibawah bahu) terdapat banyak plesteran luka.
Pertanyaannya. Untuk apa keluarga Hartanto menunggu 1 hari untuk melihat jenazah keluarga kandung mereka sendiri? Mengapa jenazah harus ditutupi oleh plastik? Apakah benar ada peraturan seperti itu? Atau hanya karangan pihak2 tertentu saja untuk menutupi kenyataan? Darimana asal luka di leher? Mengapa jenazah David terlihat berdarah cukup parah di bagian bokong?
3. Saat keluarga tiba di TKP senin malam, karena tidak diizinkan untuk melihat jenazah, keluarga datang ke NTU untuk melihat TKP, namun saat sampai, polisi tidak menemukan satupun bekas darah ataupun police line. Hebat bukan? Hanya dalam waktu sekitar 7 jam sejak waktu kejadian, TKP telah bersih total, adakah alasan untuk buru2 membersihkan TKP?
4. Lalu keluarga datang melihat kamar David, dan apa yang ditemukan? Ternyata semua peralatan komputer yang ada di kamar itu semua MENYALA. Apakah seorang yang mau bunuh diri akan menyalakan semua peralatan komputernya? Bahkan menurut kesaksian seorang teman, account MSN David masih menyala. Apakah hal ini terlihat seperti David mau mengakhiri hidupnya? Bahkan dia masih bermain game online sampai jam 2 pagi di hari kejadian bersama teman yang tadi menjenguk keluarga David.
5. Pada ruangan profesor tertinggal tas David yang biasa dia bawa, dan tebak apa yang dia bawa dalam tasnya? Sebuah handuk dan botol air mineral 1,5 L. (Semua yang mengenal Ming2 pasti tahu, dikelas, sejak SD, Ming2 selalu membawa handuk, bahkan kadang dikalungkan di leher saat berada di kelas, dia juga selalu membawa air minum yang banyak karena mamanya selalu berpesan untuk banyak mengkonsumsi air). Apakah seorang yang mau membunuh, lalu bunuh diri, akan membawa barang seperti itu? Akan jauh lebih mudah untuk membawa sebilah pisau yang besar (lebih besar dari pisau berukuran 10cm yang muncul di TKP, yang entah milik siapa).
6. Keluarga dihalang-halangi saat hendak bertemu dengan Profesor Chan Kap Luk, dengan alasan, saat itu dia sedang di ICU, dan kenyataannya? Hari rabu sang Profesor telah keluar dari rumah sakit. Apakah ada catatan seorang yang menderita luka tusukan parah yang harus masuk ICU, dapat keluar dari rumah sakit dalam tidak sampai 2 hari? Benarkan sang Profesor terluka? Atau hanya membaca koran sambil bersantai di ICU?
7. Saat keluarga ingin bertemu dengan “saksi mata” yang melihat David melompat dari lantai 4, pihak NTU menghalangi dengan alasan hal itu harus dirahasiakan. Oke, kalau begitu, darimana kita tahu kalau benar2 ada orang yang melihat kalau David benar2 melompat, bukannya terjatuh ataupun dijatuhkan orang?
8. Data tentang David dan FYP (Final Year Project) nya telah dihapus dari database NTU. Hanya dalam 2 hari, NTU langsung menghapus data topik FYP yang sedang David kerjakan, adakah alasan khusus dibalik keterburu-buruan pihak NTU untuk menghapus data tersebut? Tidakkah ada rasa ingin mengenang salah satu mahasiswa berprestasinya, alih-alih langsung menghapus data, seakan David tidak pernah kuliah disana?
9. Polisi Singapura menahan Laptop milik David dan akan dikembalikan setelah penyelidikan selesai. Untuk apa?
10. Pisau yang ada di TKP, dilaporkan berasal dari hall 4, itu hasil investigasi? Atau hanya karangan? Seorang teman di NTU berkata bahwa biasanya seorang dosen memiliki pisau kecil di ruangannya yang biasa digunakan untuk memotong buah. Jadi? Itu pisau milik David Hartanto atau Chan Kap Luk?
11. Waktu kejadian adalah sekitar jam 10.45 waktu Singapura hari Senin, apakah tidak terdengar aneh jika hanya sedikit sekali mahasiswa yang ada dan menyaksikan kejadian? Adakah tekanan dari pihak NTU untuk tutup mulut?
12. Senjata yang ditemukan -pisau buah 10cm- ditemukan tanpa gagang, dimanakah gagangnya? Mengapa tidak dilakukan analisa sidik jari? Jelas tidak mungkin menusuk seseorang tanpa menggunakan gagang pisau, jadi entah siapapun yang menusuk siapa, pasti ada gagangnya, namun pemberitaannya belum jelas.
Pemberitaan miring yang disebutkan media pun tidak berdasar, dan hanya mengikuti spekulasi yang dikarang pihak NTU, berikut klarifikasinya:
1. David berniat membunuh Profesornya lalu bunuh diri meloncat. Di dalam ruangan tersebut hanya ada David dan Profesor, David telah tiada, dan kesaksian yang bisa didengarkan hanyalah dari Profesor, darimana kita tahu kalau kesaksian tersebut benar? Tanpa bukti2 yang cukup, kesaksian Profesor tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menyalahkan David.
2. David dikatakan stress karena beasiswanya dicabut, bahkan dia salah sasaran, yaitu mengamuk ke dosen pembimbingnya. Tidakkah hal itu terdengan sangat aneh? David sangat tahu dengan jelas bahwa beasiswanya diberhentikan karena prestasinya menurun, bukan salah Profesor itu. Pihak keluarga telah diberitahu sejak hari pertama diberitahukan bahwa beasiswanya diberhentikan, dan pihak keluarga menerima, dan mampu untuk membayarnya, David juga bersikap biasa2 saja tentang pemberhentian beasiswanya. Bagi yang mengenal dia, tentu tahu bahwa dia orang yang sangat cuek, hal ini juga dapat dilihat dari post edwin.
3. Dikatakan pula, bahwa David depresi karena tidak mampu menyelesaikan FYPnya. Seorang rekan David disana menyatakan bahwa FYP David hampir selesai. Dia tidak pulang ke Indonesia pada akhir semester lalu, karena ingin berkonsentrasi menyelesaikan FYPnya. Bagi yang mengenal David, apalagi kami teman sekolahnya, tentu tahu, David sejak dulu memang ketagihan game, tapi 1 hal, dia selalu mengerjakan tugas dan PRnya dengan baik, tanpa bantuan orang lain apalagi menyalin hasil pekerjaan orang lain. Jadi, jika dikatakan dia menyerang dosen pembimbingnya karena FYPnya tidak selesai, hal itu benar2 tidak masuk diakal.
4. David diberitakan pula menghilang dari pergaulan selama kurang lebih 1 minggu sebelum kejadian, namun keluarga David tahu yang sebenarnya, David sedang berkonsentrasi untuk menyelesaikan FYPnya, jadi pernyataan bahwa David menghilang dari pergaulan karena sedang depresi dan ingin membunuh itu sangat tidak valid, karena saat itu dia banyak chatting dengan kakaknya, bahkan bermain game online bersama temannya di Indonesia. Terlihat seperti orang depresi yang mau membunuh dosennya? Tidak sama sekali!
Saat ini fakta-fakta yang muncul setelah menyingkirkan pemberitaan media adalah:
1. David meninggal jatuh dari lantai 4, tanpa luka sayatan di pergelangan tangan, dan dengan luka di bagian leher, serta bagian bokong berlumuran darah.
2. Sang Profesor keluar dari rumah sakit dalam 2 hari.
3. Pisau tidak jelas berasal darimana, dan ditemukan tanpa gagang.
4. Pihak universitas menutup-nutupi kejadian ini.
Spekulasi dan kemungkinan- kemungkinanApakah benar David menyerang profesor saat dia sedang membungkuk menghadap ke layar komputer? Jika itu benar, maka tidak mungkin saat ini profesor tersebut telah pulang ke rumahnya dengan keadaan sehat wal afiat.
Apakah sang profesor tersebut yang justru menyerang David?
Hal ini sangat mungkin, karena bukti dan fakta yang ada mengarah ke kesimpulan tersebut. Lalu apa motifnya? Sampai saat ini, hanya Tuhan dan Profesor Chan Kap Luk yang tahu.
Namun saat ini santer beredar kabar bahwa sang Profesor ingin merebut FYP milik David. Hal ini didukung oleh kesaksian teman David yang mengatakan FYP David hampir selesai. Apakah mungkin seorang dosen dan Profesor dari universitas terkemuka di negara maju mau merebut FYP milik mahasiswanya sendiri? Kenyataannya, hal itu sangat mungkin terjadi.
Seorang yang mendengar kabar tentang kematian David bercerita pada seorang teman-sebut saja A-, bahwa seorang profesor di NTU, di jurusan yang berbeda, memberikan nilai D pada FYP si A, lalu si profesor menawarkan untuk membuat FYP baru, dan dia akan beri nilai B, dengan syarat FYP yang sebelumnya akan jadi hak milik si Profesor. Apakah terdengar aneh? Ya, si profesor ingin merebut hak atas FYP milik si A dengan iming2 nilai.
Jadi hal ini sebenarnya bukan hal yang baru di NTU, hanya saja kali ini ujungnya berakhir tragis bagi David karena dia tidak mau menyerahkan hak atas FYPnya. Sekali lagi, ini spekulasi, namun jauh lebih logis daripada pemberitaan media dan NTU.
Ming, saat ini lo udah gak ada, gak ada lagi yang bisa kita lakukan buat lo, selain pulihin nama baik lo, dan menyatakan kebenaran, lo istirahat yang tenang aja disana.
RIP, ming.
Guys, tahu gak sebenernya sekarang apa yang sedang keluarga Hartanto sedang coba lawan? NTU, sebuah universitas terkenal milik pemerintah singapura! Untuk perbandingannya adalah ITB di Indo. Apa yang bisa dilakukan segelintir orang: keluarga Hartanto yang hanya tinggal bertiga, keluarga besarnya teman2 yang berjumlah puluhan sampai ratusan? apakah bisa melawan NTU? Bisa! Bagaimana caranya? Kita harus menyatakan kebenaran harus diungkap sejelas2nya tanpa ada yang diubah2 atau ditutup2i. Saat ini, kita sebagai sesama pengguna internet, harap sebarkan kabar ini seluas-luasnya, agar banyak orang makin peduli tentang kasus ini dan investigasi akan dilakukan lebih lanjut, setidaknya jangan sampai orang-orang berpikir bahwa Davidlah yang bersalah, karena itu jelas tidak benar. Kabarkan ini ke teman-teman, saudara, dan copylah tulisan saya ini di blog/forum/facebook /friendster anda, tidak akan saya tuntut untuk copyright. Terima Kasih.
Salam
Diposkan oleh cl4y_m4n di 00:39
(From: dvh03@yahoo. com)* * * * *03. “THEY WANT TO KILL ME,” TERIAK DAVID, DARAH LALU BERSIMBAH
SKETSA 18 Maret 2009 – Pertemuan saya dengan ayah David, Hartono Wijaya, hari ini mengindikasikan kuat pembunuhan. Riset David setelah terus saya verifikasi menajam; indikasi ”rebutan” hak penemuan ” komponen” obyek 3 dimensi yang bisa tayang di udara, bisa juga berguna bagi televisi masa depan yang dapat ditonton kasat mata, tanpa kacamata khusus, laksana riset yang pernah dilakukan Lucas Art & Co. Inilah Sketsa ke-3 sebagai seorang literary citizen reporter, indikasi tentang kasus pembunuhan anak jenius, aset bangsa seharusnya.
SOSOK Hartono Wijaya berkacamata berkemeja lengen pendek bergaris Biru berpantolan biru tua. Alur benang celana bagian pisak depannya melicin. Ada goresan seterikaan. Sepatu hitamnya bertelapak tipis. Penampilannya sederhana saat saya temui. Hartono adalah ayah kandung David Hartanto, mahasiswa Indonesia yang tewas di kampusnya di Nanyang Technology University (NTU), Singapura, pada 2 Maret 2009 lalu.
“They want to kill me, they want to … kill me … they …”Di menjelang ajal itu, David berteriak-teriak, “They want to kill me,” lalu lari terbirit-birit, di lantai tempat ia berkonsultasi dengan dosen pembimbing skripsinya, Prof., DR. Chan Yan Loek, 45 tahun, di jurusan Electrical Engineering.
Tak ada bala bantuan.
David ketakutan.
Bayangan kematian di depan mata.
Malaikat maut seakan menabal ajal.
Kampus bergengsi di pagi cerah mulai ramai namun sepi.
Di 2 Maret 2009, sekitar pukul 10 waktu Singapura, suasana senyap, ternyata telah mengantar tubuh David yang semula segar bugar lalu kelengar. Indikasi lehernya ditebas, lalu badannya dibuang, dijatuhkan dari lantai empat kampus, tempat segala ilmu dan kelimuan yang mengdepankan integritas itu terjadi.
Seorang wanita, pekerja di NTU melihat sosok David lari terbirit-birit. Ia mendengar jelas suara, ”They wanto to kill me…” Tetapi ia tak menyangka sebuah permintaan tolong melolong.
Ia mengira, agaknya, hanya sebuah adegan bercanda.
Wanita itu menceritakan detik mencekam itu kepada Hartono Wijaya, pada 2 Maret 2009 petang di Singapura, di saat sosoknya berkunjung ke Kampus NTU..
“Jika saya sebutkan nama wanita itu kepada Anda, akan dibunuh pula wanita itu kini,” ujar Hartono.
Indikasinya leher David ditebas pisau. Darah berceceran di tangga, sebagaimana foto tetesan darah yang sedang dibersihkan yang telah dikirim oleh seorang blogger di Singapura kepada saya. Foto itu kini juga beredar di internet, Facebook, dan menjadi potongan video visual yang dibuat oleh Christovita Wiloto.Kalimat David lari terbirit-birit dengan nada ketakutan itu diceritakan Hartono dengan mata berkaca-kaca.
Saya lalu meminta tolong ayah David ini mendeskripsikan jasad anaknya ketika pertama kali melihat.
Ditemani oleh pihak Kedutaan Indonesia di Singapura pada sore, 2 Maret 2009, oleh pihak kepolisian ia tak diperbolehkan melihat jasad David. Alasannya masih dalam otopsi.
“Keesokan harinya saya kembali.”
“Anak saya badannya dililit plastik, dibalut macam mumi plastik bening.”“Tetapi saya melihat lehernya diplester, ada tiga baris plester.”
Demikian paparan Hartono kepada saya.
Saya berjumpa Hartono di sela-sela diskusi yang diadakan oleh Christivita Wiloto, Selasa, 17 Maret 2009, pukul 13.30. Chris membuat pertemuan diskusi sekalian memberikan penghargaan kepada penulis resensi bukunya, Behind Indonesia Headlines, dalam sebuah diskusi bertopik Membangun Citra Positif Indonesia Melalui Pemberitaan Media. “Mengapa media di Indonesia hanya mengutip saja keterangan media di Singapura, bahwa David memutus nadi, melompat bunuh diri,” ujar Christovita membuka diskusi.
Bisa saya maklumi Hartono enggan menyebut wanita saksi mata itu. Toh, empat hari setelah kematian David, sosok Zhou Zheng, peneliti, yang di saat hari kematian David turut hadir di ruangan Prof Chap Yan Loek, mati gantung diri.
Christovita membuat sebuah film presentasi bahan yang dikumpulkan di forum Straits Time. Kumpulan foto kematian David; deretan kejanggalan, seperti dua tulisan saya sebelumnya, sudah beredar di banyak milis, blog , di Facebook, kini.
Di tanggal 3 Maret, kedua orang tua David di Singapura, diminta membuat keputusan cepat, mengkremasi jasad atau membawa pulang ke Indonesia.
“Entah mengapa kala itu, dalam keadaan kalut kami memutuskan mengizinkan kremasi,” kenang Hartono. Matanya berkaca. Seakan ada penyesalan di sana.
Pertanyaannya lalu, mengapa David dipatheni? (dibunuh-red. )
SAYA teringat akan pergumulan saya di dunia visual.
Sejak berhenti jadi wartawan di Majalah SWA pada 1989, saya kemudian membuka usaha sendiri, mulai dari graphic design hingga visual animasi. Bahkan pada 1993, saya memutuskan penuh berusaha bergerak di bidang animasi. Hingga 1996, usaha saya tutup, setelah menginvestasikan uang Rp. 1,2 miliar, sebuah angka besar bagi saya – - karena diperoleh dari usaha sendiri dari nol. Saya membuat animasi 2D wayang, 3D wayang.Dalam pergulatan yang membawa kerugian uang itu, mengantarkan saya kepada pengetahun piranti lunak dan kemampuan visual. Saya mengenal yang namanya aplikasi software animasi 3D; mulai dari Soft Image 3D, 2D, Toon, 3D Studio Max. Hardware mulai dari high end komputer Silicon Graphic yang dipakai untuk menjalankan aplikasi editing macam Inferno – - dulu di Jakarta dimiliki pertama oleh Post Office, perusahan post production (rumah paska produksi) milik Peter F. Gontha.
Pada 1997-1998, saya sempat pula bekerja di VHQ, rumah paska produksi visual milik Eric Lomas, orang Australia, warga Singapura. Ia juga berpartner dengan Media Development Authority (MDA) semacam BUMN-nya Singapura. Melalui MDA inilah, antara lain pemerintah Singapura memberi kemudahan Disney, bahkan Lucas Film membuka usahanya di Singapura, termasuk memberi iming-iming tax free.
Lucas Art & Co, pernah melakukan riset tentang teknologi tiga dimensi (3D) visual untuk kepentingan iklan, yang mampu tampil di udara. Itu artinya, software animasi 3D, sederhananya, yang semula hanya bisa membuat model dan tayang di komputer atau cuma direkam ke format film dan video, lalu bisa ditayang di udara.
“Seingat saya pada 2006 Lucas Art & Co, sudah pernah mempublikasikan rencana riset mereka soal itu,” ujar Vidiyama Sonnekh, praktisi teknologi informasi di Jakarta.“Semacam hologram tiga dimensi yang bisa hidup di udara.”
“Dulu kami pernah mau menawarkan teknologi itu sebagai suplier ke kelompok usaha Djarum yang sedang membangun Grand Indonesia. Cuma, kala itu masih mahal, proyektornya saja satu US $ 20 juta,” kata Vidiyama.
Nah harga mahal itu pastilah berkait ke riset panjang dan mahal.
“Nah jika ada mahasiswa yang melakukan riset dan menemukan teknologi yang lebih murah, logikanya, bisa merugikan industri?” ujar Vidi.
Judul penelitian David Hartanto: “Multiview acquisition from multi-camera configuration for person adaptive 3D display 3D Rekonstruski Dari CCTV, Syarat Utama Pendukung Intelligent Video Surveillance System.”
Dari latar pemahaman animasi dan software, latar bekerja di perusahaan post, lalu mengetahui riset Lucas Art dari Vidiyama, serta membaca judul skripsi David, plus mendapatkan email dari blogger di Singapura, juga mengakuan sosok gadis bernama Angel, mahasiswi yunior David di NTU, maka saya menduga, bahwa penemuan David adalah: Kemampuan membuat gambar visual tiga dimensi yang bisa tayang ke udara, khusus untuk teknologi intelijen, di mana sosok orang digital bisa diprogram masuk ke ruang tertentu dipantau melalui kamera CCTV, gerakannya dipandu pemindai gerak (motion capture); dapat mengirim data, suara, layaknya manusia benaran yang sedang kita perintah bekarja.
Jika benar demikian, hebat. bukan.Jika benar itu yang ditemukan, menurut Vidi, implementasinya bisa macam-macam. ”Kita bisa saja mengganti resepsionis di kantor dengan orang 3D, bukan manusia utuh,” ujar Vidi.
Saya lalu menghayal membayangkan teknologi hologram dalam film Star Trek, yang kini memang mulai banyak dilakukan riset visualnya oleh Amerika Serikat. Riset itu juga berupaya mengembangkan televisi masa depan, antara lain agar publik dapat menonton teve tiga dimensi di udara tanpa lagi menggunakan kacamata khusus.
Ketika di risetnya 70%, sesuai penuturan Angel, sebagaimana sudah saya tulis di Sketsa saya kedua soal David, profesor-nya tidak yakin David mampu. ”Jika kamu bisa, kamu akan dapat Nobel,” ujar Angel, mengutip David. Gadis itu penasaran atas kesibukan David selama dua pekan menyelesaikan tugas akhir yang tak mau diganggu. Ia lalu mengunjungi David dan mendapatkan keterangan demikian.
Pada pagi sebelum berangkat ke kampus, David sudah memeindahkan data skripsinya ke flash-disk. Juga mebawa note book-nya dalam ransel, plus bekal minuman air putih dalam botol besar.
“Sesuai dengan info kawan-kawanya di Singapura yang saya terima, hari itu skripsinya sudah sampai 90% final,” ujar Hartono Wijaya, sang ayah.
Malang tak dapat diduga, kampus yang seharusnya menjadi wadah para ilmuwan yang berdedikasi kepada keilmuan dan kejujuran, sebaliknya justeru kini meninggalkan tanda tanya besar. Jika indikasi pembunuhan memang kini menguat, riset jitu anak penggemar game dan visual itu pun diduga kuat sesuatu yang sangat berarti.
Pertanyaaan, mengapa David harus mati?
Hingga di sini adalah tugas jurnalisme perlu melakukan verifikasi terus-menerus menjadi penting.
“Saya sangat menyayangkan mengapa KBRI kita di Singapura diam saja. Tidak bersuara?” ujar Constant Marino Ponggawa, anggota komisi I DPR RI, 2004-2009.
Ketika saya desak dengan pertanyaan, mengapa DPR tak menekan pemerintah RI menyampaikan tekanan penyidikan tuntas terhadap pemerintah Singapura?
“Ini waktunya sedang tak pas. DPR sedang reses.” kata Constant.
Constant tak habis pikir, mengapa pemerintah diam, “Apa ini karena sosok yang tewas kalangan minoritas?”Bila saya menjawab Constant, maka dengan berat hati saya tuliskan kembali bahwa penghargaan negara terhadap nyawa memang rendah-rendah saja. Saya mengulang menuliskan bahwa tiga pekan lalu seorang wanita bernama Devi, di Pamulang, Banten, koma usai diperkosa, rumah sakit tidak bisa menerima karena tak ada identitas dan kartu miskin, dirawat sekenanya di pos ronda lima hari oleh warga, lalu mati begitu saja.
Negara?
Entah di mana!
Di banyak kasus menimpa TKI kita di luar negeri, dilecehkan, dihamili bahkan mati, sebagaimana dipaparkan Christivita Wiloto, negara juga seakan entah di mana?
Makanya jika seorang anak pandai, brilian pula otaknya, lalu kemudian dibunuh, dan opini media sedunia dibangun bahwa, anak mahasiswa Indonesia penusuk dosen?
Pembunuh!
“Maka celakalah kita,” ujar Christovita.
Di saat anggota DPR reses, di saat pejabat pemerintahan bercuti lalu berkampanye, di saat para Caleg menghitung kocek, kematian satu nyawa, bisa jadi terlupakan lagi oleh pengelola negara. Padahal di kematian David, bisa jadi sesungguhnya menyangkut nama besar bangsa diindikasikan dirusak, sekaligus “dihina”. Sudah sejak lama anak-anak pintar negeri ini diimingi bea siswa, lalu setelah tamat otaknya guna membangun bangsa orang.
Inilah tragedi di bangsa yang menghamburkan dana dalam lima tahun ini mencapai Rp 1.000 triliun, untuk kepentingan Pemilu, Pilkada, Partai dan pengeluaran perorangan partai, namun alpa akan sisi kemanusiaan yang kian hari seharusnya: kian beradab.
“Sebagai orang tua, Pak Hartono tak mungkin meminta nyawa anaknya kembali. Tetapi minimal ada pembuktian, bahwa anaknya mati bukan karena menusuk dosen,” ujar Christovita.(SKETSA, 18 Maret 2009)
* * * * *
PEMILU DIUNDURKAN???? March 27, 2009
Posted by Partogi Siagian, M.Pd in POSSIBLE OR IMPOSSIBLE, Politics.add a comment
Karena semakin banyak ditemukan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang bermasalah, logistik pemilu oleh KPU belum rampung sampai hari ini, pelanggaran sistem kampanye yang menjadi2. kemungkinan besar pemilu akan diundurkan….
Possible? atau Impossible?
Bencana Situ Gintung March 27, 2009
Posted by Partogi Siagian, M.Pd in Bencana Alam.add a comment
Lagi2 Indonesia dapat musibah, Tanggul Situ Gintung, di Desa Cireundeu, Tangerang jebol sekitar pukul 02.00 WIB. Akibatnya, puluhan rumah warga di sekitar tanggul terendam. Musibah ini juga telah menewaskan lebih dari 52 orang.
Bencana ini membuat pilu kembali hati bangsa, mayat kembali bergeletakan….rumah hancur….., sekolah….., bahkan universitas…mengapa tejadi? Apa yang salah dengan danau tersebut?

Apakah debit airnya yang terlalu tinggi atau tanggulnya yang memiliki konstruksi kurang sesuai. Atau memang perawatan/ pemeliharaannya yang sudah luput dari perhatian?

Namun, kita dapat mengacungkan jempol atas tindakan tanggap darurat yang dilakukan pemerintah. Presiden dan Wakil beserta jajarannya langsung terjun meninjau lokasi. Hal seperti inilah yang seharusnya terus dilakukan apabila ada bencana. Karena dengan melihat kondisi real di lapangan pemerintah/ presiden dapat mengambil kebijakan yang cepat dan tepat. Terima kasih pak Presiden dan pak Wapres karena telah mengambil kebijakan untuk membantu para korban bencana. Harapan kami, hendaklah bantuan cepat direalisasikan sehingga tidak membuat rakyat lebih lama menderita.
Kami yang dari kejauhan hanya dapat menatapi tanpa dapat berbuat. Kami juga tidak perlu mencari siapa yang salah dan menyalahkannya. Baiklah ini kita buat menjadi bencana atau musibah yang mungkin mengingatkan kita akan sesuatu hal yang harus kita koreksi.
Semoga bantuan tepat sasaran dan tepat waktu.
“Pemerintah dan rakyat harus terintegrasi dengan baik. Apalah arti pemerintah kalo rakyat menderita….”
